imel
Blog Universitas Komputer Indonesia

Menilik 3 Tokoh Pers Yang Berpengaruh Di Indonesia

Tanggal 9 Februari, menjadi momentum perayaan bagi insan yang mengabdikan diri sebagai seorang jurnalis. Bagaimana tidak, 9 Februari merupakan perayaan Hari Pers Nasional, sekaligus bertepatan dengan hari ulang tahun Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). 

Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 5 Tahun 1985, bahwa penduduk Indonesia mempunyai sejarah perjuangan dan peran penting dalam melaksanakan sebagian pengamalan pancasila. Kemudian, dewan pers menetapkan hari pers nasional dilaksanakan setiap tahunnya secara bergantian di ibu kota provinsi se-Indonesia. Jangan lupa baca artikel Bisnis dan Keuangan

Bila ditilik kembali, tentunya banyak tokoh yang berpengaruh memberikan informasi yang mendidik demi membangun bangsa. Berikut Gemercik telah merangkum 5 Tokoh Pers Nasional yang berpengaruh di Indonesia versi Gemercik. Di antaranya:

1. Tirto Adhi Soerjo 

Tirto Adhi Soerjo atau yang sering disingkat T.A., dikenal sebagai perintis per-surat kabaran dan kewartawanan nasional Indonesia. Ia merupakan orang pertama yang menggunakan surat kabar sebagai alat propaganda dan pembentuk pendapat umum. Selain itu, ia juga berani menulis yang berisikan kecaman-kecaman pedas terhadap pemerintah kolonial Belanda, yang akhirnya beliau ditangkap dan diasingkan ke Pulau Bacan, dekat Halmahera,  Provinsi Maluku Utara.

Pada tahun 1973, pemerintah mengukuhkannya sebagai Bapak Pers Nasional. Pada tanggal 3 November 2006, Tirto mendapat gelar sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres RI No. 85/TK/2006.

2. H. Rosihan Anwar

H. Rosihan Anwar adalah salah seorang yang produktif menulis. Ia merupakan tokoh pers, sejarawan, sastrawan, dan budayawan Indonesia.

Mulanya, Rosihan berkecimpung di reporter Asia Raya pada zaman penjajahan Jepang, yakni tahun 1943 hingga menjadi Pemimpin Redaksi Siasat (1947-1957) dan Pedoman (1948-1961). Di masa perjuangan, Rosihan pernah disekap oleh penjajah Belanda di Bukit Duri, Batavia (kini Jakarta).

Selain itu,  pada tahun 1961 koran Pedoman miliknya dibredel penguasa. Rosihan juga pernah menjabat Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia pada masa orde baru (1968-1974).

Pada tahun 1973, Rosihan mendapat anugerah Bintang Mahaputra III, bersama tokoh pers Jakob Oetama. Sayangnya, kurang dari setahun Presiden Soeharto menutup koran Pedoman miliknya.

3. Mochtar Lubis

Mochtar Lubis merupakan seorang jurnalis dan pengarang ternama asal Indonesia. Ia turut mendirikan Kantor Berita ANTARA. Kemudian, Mochtar Lubis juga pernah menjadi pemimpin umum dan pemimpin redaksi surat kabar Indonesia Raya yang pernah mengalami dua kali masa terbit, yaitu pada zaman Orde Lama (1949-1958) dan Orde Baru (1968-1974). Ia mendirikan majalah sastra Horizon bersama kawan-kawannya. Mochtar Lubis terkenal akan keberaniannya dalam melawan pada waktu pemerintahan rezim Soekarno, ia dijebloskan ke dalam penjara hampir sembilan tahun lamanya dan baru dibebaskan pada tahun 1966. Pemikirannya selama di penjara, ia tuangkan dalam buku Catatan Subversif (1980).

Format Lainnya : PDF | Google Docs | English Version
Diposting pada : Jumat, 24 Juni 22 - 11:11 WIB
Dibaca sebanyak : 686 Kali
Tidak ada komentar pada blog ini...
Anda harus Login terlebih dahulu untuk mengirim komentar
Facebook Feedback